Arisan Sembako; THR Bagi Ibu Rumah Tangga

Idul Fitri bagi kalangan muslim di Indonesia memang merupakan hari raya yang sangat besar dan paling meriah jika dibandingkan dengan hari raya Idul Adha. Disamping karena Indonesia memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia juga dikarenakan tradisi mudik lebaran yang menyertai idul fitri juga turut andil dalam menghiasi suasana lebaran di setiap tahun.

Ditinjau dari sisi ekonomi, bulan Ramadhan dan Syawal merupakan bulan-bulan dalam kalender Islam yang selalu menjadi titik puncak bergeliatnya perekonomian khususnya di Indonesia. Karena di dalam dua bulan itu justru permintaan kebutuhan pokok mengalami peningkatan. Utamanya pada sektor perdagangan, transportasi, komunikasi, dan rekreasi. Selama menjelang ataupun tengah berlangsungnya lebaran hampir setiap pedagang apapun kebanjiran pembeli, mulai dari asongan sampai pusat-pusat perbelanjaan. pasar dadakanpun seolah tak ingin ketinggalan moment lebaran. Penyedia jasa transportasi bak panen raya, baik yang milik pemerintah maupun swasta dengan melonjaknya penumpang yang diikuti dengan melambungnya harga tiket seiring perhelatan skala nasional yang bernama “Mudik”. Selain itu, trafik komunikasi melonjak dengan drastisnya; mulai dari layanan data, sms, ataupun voice (telepon). Tak ketinggalan pula untuk melengkapi liburan lebaran, tempat-tempat rekreasi juga tiada sepi pengunjung yang seakan menjadi menu penutup dalam merayakan lebaran.

Dalam tradisi Islam Jawa, banyak kegiatan selamatan yang digelar pada bulan Ramadhan hingga lebaran. Ketika masuk bulan Ramadhan biasanya ada selamatan yang disebut dengan Punggahan, kemudian nanti ketika sudah memasuki malam 21 hari ada lagi selamatan yang disebut dengan Maleman atau Selikuran. Hingga Puncaknya ada lagi selamatan ketika masuk waktu malam hari Raya. Dan secara kebetulan juga di tahun ini berbarengan dengan bulan Agustus yang juga ditandai dengan selamatan pada malam 17 Agustus, yang biasanya disebut dengan Bari’an (atau renungan malam). Belum lagi tradisi jawa yang setiap akan lebaran senantiasa saling berkirim makanan antar kerabat (ater-ater) hingga puncaknya biasanya pada seminggu setelah lebaran yakni dengan tradisi selamatan Kupatan. Dari beberapa tradisi di atas secara otomatis meningkatkan permintaan akan kebutuhan barang pokok dan juga komoditi pelengkap lainnya. Belum lagi kebutuhan akan kue lebaran sebagai pelengkap hidangan di rumah untuk disuguhkan kepada para tamu yang bersillaturrahim. Praktis, di sektor perdagangan inilah peningkatannya terlihat mencapai puncaknya pada musim lebaran. Hal tersebut seringkali memicu harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik. Entah karena keterbatasan stok yang tidak seimbang dengan permintaan atau memang dengan sengaja dinaikkan karena adanya kesempatan lebaran. yang jelas peristiwa seperti ini pasti berulang-ulang setiap tahunnya.

Mengacu dari kebiasaan naiknya harga-harga pokok tersebut, menjadikan ibu-ibu muslimat di kampung saya menyiasati hal itu dengan mengadakan kegiatan arisan sembako. Kegiatan ini merupakan alternatif yang sangat membantu bagi masyarakat ekonomi menengah kebawah khususnya di kampung saya dalam menghadapi lebaran. Secara teknis arisan sembako ini tidak jauh beda dengan menabung, yakni setiap peserta diwajibkan menyetorkan sejumlah uang tiap minggunya dan di pertengahan bulan puasa tabungan mereka dikembalikan dalam bentuk sembako senilai dengan jumlah uang yang terkumpul. Dan di lebaran kali ini yang juga merupakan tahun kedua arisan sembako, ibu saya mendapatkan hasil arisan berupa; Beras 25 Kg, Gula Pasir 5Kg, Telor Ayam 5 Kg, Minyak Goreng Kemasan 5 Kg, Syrup 2 Botol, Mie Telor dan Mie Bihun masing-masing 1 Pack/500gr.

Dari hasil arisan sembako tersebut setidaknya mampu menutup kebutuhan untuk melaksanakan tradisi ater-ater dan juga rangkaian acara selamatan selama bulan puasa. Selain juga melatih kemandirian masyarakat dalam menyikapi kebutuhan hidup .Dengan begitu semakin meringankan kebutuhan-kebutuhan dasar utamanya yang berhubungan dengan bahan pokok ketika menjelang lebaran. Sehingga masyarakat ekonomi kelas menengah kebawah tetap dapat menjaga tradisi-tradisi lebaran yang mampu mempererat tali sillaturrahim antar keluarga dan lingkungannya, tanpa merasa terbebani.

—————————————————————
Ismanadi ;Terima Kasih Telah Membaca Tulisan ini sampai di Sini, Jangan Lupa Komentarnya :D .
Sumber Gambar : Di Sini